Menu Click to open Menus
Home » Artikel tentang pendidikan » Cara Mengatasi Remaja Yang Menjadi Anak Nakal

Cara Mengatasi Remaja Yang Menjadi Anak Nakal

(12220 Views) August 6, 2015 10:53 am | Published by | 1 Comment

Dengan bertambahnya usia anak, pengetahuan dan perhatian anak terhadap lingkungan sekitarnya semakin berkembang. Jika lingkungan yang dulu mereka kenal hanyalah lingkungan rumah. Yang mereka tahu hanyalah keluarga, ayah, ibu, adik, kakak atau kakek nenek yang mungkin tinggal dalam satu rumah. Ketika tahap tumbuh menjadi remaja, anak tidak lagi tergantung pada kedua orang tuanya atau anggota keluarga yang lain di rumah, namun mulai terpengaruh dan tergantung pada lingkungan dan teman-temannya.

Anak yang tadinya berperilaku baik, sopan dan penurut, bisa saja berubah menjadi anak ‘nakal’, menjadi pemberontak serta kasar, mengabaikan apa yang sudah diajarkan orang tua, setelah mulai mengenal lingkungan yang lebih luas.

Bisa jadi pengaruh lingkungan diluar rumah dan teman bergaul yang tidak baik mempengaruhi perilakunya. Hal ini sebenarnya wajar, karena anak masih belum stabil dan mapan kejiwaannya. Umumnya ini terjadi pada anak-anak yang masih duduk di jenjang pendidikan SD, SMP maupun SMA.

Sebenarnya tidak ada anak yang nakal, yang ada adalah anak yang keliru dalam memilih jalan yang harus dilaluinya. Dan terkadang seorang anak dianggap nakal pun bisa berbeda-beda tergantung pada ukuran norma dan aturan kesopanan yang diterapkan di lingkungan serta keluarga.

Orang tua perlu mencari cara mengatasi anak yang menjadi nakal  ketika anak telah beranjak remaja, sebelum kenakalan tersebut membentuk sifat dan karakter si anak.

Cara mendidik anak yang menjadi nakal memang memerlukan kesungguhan dan upaya yang lebih, dengan harapan akan merubah perilaku anak yang keliru menjadi lebih baik lagi.

Berikut beberapa cara mengatasi anak yang menjadi nakal yang bisa dijadikan sebagai referensi orang tua dalam mendidik anak menjadi pribadi lebih baik lagi, antara lain ialah :

 

Memberikan pendidikan agama

Agama mengandung nilai-nilai kebaikan universal yang bisa dijadikan pedoman hidup. Dengan menanamkan nilai-nilai agama sejak dini, diharapkan menjadi pondasi yang kuat untuk membentuk kepribadian seorang anak.

Mengajarkan nilai-nilai agama lebih penting daripada mengajarkan hanya ritualnya saja, karena ritual agama menjadi kehilangan makna bahkan bisa menjadi melenceng, tanpa memahami nilai yang dikandung didalamnya.

Ketika anak menjadi nakal, mulai tersesat jalan, melenceng dari norma-norma yang sudah di tanamkan. Kita bisa mengembalikan arah mereka dengan mengingatkan kembali tentang nilai-nilai kebaikan yang terkandung dalam ajaran agama.

 

orang tua mendidik anak dengan memberi contoh

(Anak belajar dari apa yang dilakukan orang tuannya | blog.uad.ac.id)

 

 

Memberikan contoh yang baik

Orang tua adalah role model bagi seorang anak. Perilaku yang diperlihatkan oleh orang tua menjadi contoh bagi anak.

Pada prinsipnya apa yang dilihat dan dirasakan manusia, lebih kuat pengaruhnya dibanding apa yang didengar, begitu juga dengan anak. apa yang di lihat dan di rasakan dari perilaku orang tuanya, lebih berpengaruh daripada apa yang di dengarnya.

Menghadapi anak yang mulai nakal tidak bisa dengan hanya ucapan apalagi makian, namun memberikan contoh dengan tindakan yang menunjukkan bahwa apa yang di lakukan anak adalah salah. Perkataan di butuhkan untuk menjelaskan, memberi pengertian dari tindakan yang di lakukan tersebut.

 

Jauhkan dari lingkungan pergaulan yang buruk

Keluarga menjadi tempat pendidikan pertama bagi anak, namun lingkungan juga memberi banyak pengaruh baik ataupun pengaruh buruk. Lingkungan yang baik akan menguatkan nilai-nilai kebaikan yang orang tua ajarkan kepada anak. Namun lingkungan yang buruk akan menggerus, bahkan menghilangkan nilai-nilai kebaikan itu dan menggantikannya dengan yang buruk.

Begitu kuatnya pengaruh lingkungan kepada anak-anak yang sedang tumbuh dewasa, membuat orang tua harus berhati-hati dalam memilih lingkungan tempat tinggal. Menjauhkan anak dari lingkungan yang tidak baik harus dilakukan agar anak tidak terpengaruh.

Jika lingkungan di sekitar tempat tinggal memang buruk, orang tua bisa mencarikan anak lingkungan yang lebih baik dimana dia menghabiskan banyak waktunya.

Mengikut sertakan anak di kegiatan-kegiatan yang positif diluar lingkungan tempat tinggal yang buruk, diharapkan mampu mengeleminasi pengaruh buruknya.

 

Selalu bersikap tenang

Ketika mengetahui bahwa anak menjadi nakal, terkadang orang tua menjadi kecewa dan marah. Kemarahan akan membuat orang tua sulit berpikir dengan jernih untuk mencari penyebab kenapa itu terjadi, karena lebih berfokus pada akibat anak menjadi nakal.

Tanpa mengetahui penyebab anak menjadi nakal, akan sulit mencari solusi yang tepat untuk mengatasinya. Berbicara dari hati ke hati dengan anak membutuhkan hati yang tenang. Untuk memahami apa yang terjadi dan penyebabnya di butuhkan pikiran yang jernih.

Lingkungan yang tidak baik bisa menjadi kambing hitam yang paling mudah, walaupun belum tentu itu benar. Bisa jadi anak menjadi nakal bukan karena lingkungan dan pergaulan yang buruk, namun karena bentuk protes atau menuntut perhatian dari orang tua.

 

Anak nakal menjadi terbiasa dengan makian

(Anak menjadi kebal dengan kekerasan yang dilakukan orang tuanya | m.republika.co.id)

 

Hindari menggunakan kekerasan

Menghindari menggunakan kekerasan baik secara fisik dengan pukulan/ tendangan, maupun mental dengan kata-kata kasar dan makian sangatlah penting.

Beberapa kasus menunjukkan bahwa anak yang sering mendapat kekerasan justru meningkat kenakalannya. Tindakan kekerasan yang berulang menyebabkan anak menjadi kebal dan cenderung melawan, karena pada dasarnya tidak ada seorangpun manusia yang suka di sakiti. Kecenderungan melawan ini bisa timbul secara otomatis karena upaya pertahanan diri.

Dari beberapa kasus yang lainnya, anak yang tidak mampu menghadapi kekerasan yang berulang akan menjadi takut, atau bahkan trauma. Trauma ini akan terbawa sampai dia menjadi dewasa, yang bisa memunculkan gangguan kejiwaan.

Bisa jadi anak menjadi baik perilakunya di depan orang tua hanya untuk menghindari kemarahan dan kembali melakukan perilaku yang tidak baik ketika ancaman kemarahan tidak ada, karena tidak ada orang tua yang melihat perbuatan itu.

Menggunakan cara halus dan pendekatan yang baik merupakan langkah yang lebih bijaksana, walaupun tidak mudah. Namun jika itu berhasil, hasilnya akan lebih baik dan cenderung permanen dibanding dengan cara keras.

 

Berikan perhatian yang cukup

Perhatian dari orang lain merupakan kebutuhan dasar manusia. Di akui atau tidak ego tiap manusia membutuhkan perhatian dari orang lain, begitu juga dengan anak.

Memberi perhatian kepada anak haruslah proporsional sesuai dengan kebutuhan. Kurang perhatian orang tua sebagai manusia yang paling berpengaruh dalam hidupnya, akan membuat anak mencari berbagai cara untuk memperolehnya, entah itu dengan cara yang baik ataupun buruk.

Salah satu cara yang buruk untuk mendapatkan perhatian orang tua salah satunya dengan menjadi nakal. Anak akan melakukan tindakan-tindakan untuk memancing perhatian. Jika tindakan itu mendapat respon positif dengan segera, biasanya tindakan itu akan segera berhenti. Namun akan dilakukan lagi jika dibutuhkan.

Jika kenakalan-kenakalan untuk memancing perhatian itu tidak segera direspon, kemungkinan akan meningkat hingga tujuannya tercapai.

Kenakalan yang berulang-ulang dilakukan bisa menjadi kebiasaan. Walaupun perhatian orang tua yang di butuhkan anak sudah diberikan, namun jika kenakalan tersebut sudah menjadi kebiasaan, akan sulit menghilangkan kenakalan tersebut.

 

Dengan beberapa cara diatas, diharapkan anak yang menjadi nakal bisa kembali bahkan menjadi lebih baik lagi. Namun yang pasti setiap masalah yang ditimbulkan seorang anak, orang tuu tidak bisa melepas tanggung jawabnya. Oleh karena itu interospeksi diri orang tua juga sangat diperlukan.

 

(Diolah dari sumber : m.republika.co.id, blog.uad.ac.id, tipsanakbayi.com, wom.my dan beberapa literatur lainnya)

 

1 Comment for Cara Mengatasi Remaja Yang Menjadi Anak Nakal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>